- Wednesday, June 09, 2010 - 0 comments
Pendidikan seks: agar tidak jadi korban.
Saya tidak mau sok bijaksana, atau sok mengajar hal ini pada kalian semua, tapi menrut saya ada beberapa fakta yan seharusnya sedikit diterangin tentang pendidikan seks.Kini kita hidup dalam suatu lingkungan di mana seks selalu hadir dangan berbagai bentuk. Internet sudah dipakai secara rutin oleh jutaan orang, dan media-media memang tidak pernah malu membahas seks dengan cara yang sangat bebas. Siapa yang belum pernah dengar lagu yang liriknya "I wanna make love right now, right now" ?
Jadinya, kita tidak boleh tutup mata dan sebaliknya kita harus lebih tahu tentang hal yang ternyata masih sedikit tabu ini.Saya ambil contoh yang agak aneh, tapi coba kita samakan seks dengan demam berdarah alias DB.
Kalau sifat kita terhadap DB sama dengan sifat kita terhadap seks, yang bisa terjadi adalah:
Ya, memang takkan ada video-video nyamuk disebar-luaskan melalui HP, tapi kalian get my point kan? Nah, sekarang kita lihat, di dunia ini, apalagi dengan rutinisasi pemakaian internet dan social media, anak-anak semakin terekspose dan remaja-remaja bisa semakin sering dijadikan korban skandal-skandal tidak jelas.
Tapi kenapa ya bisa sampai ke situ?Jawabannya jelas: Kalau saya tahu tentang sesuatu dan kamu tidak tahu akan hal yang sama, saya dapat mamfaatkan ketidaktahuan kamu dan mamfaatkan kamu.
Kalau hal itu mobil, kamu jadi pembeli, kalau hal itu seks...kamu jadi korban. Makanya solusinya jelas, tidak usah tutup facebook, tidak usah buang hp... tambah ilmu saja tentang seks! Seks itu manusiawi, seks itu sebagian besar dari hidup kita, seks itu bukan teori tapi fakta. Jadi kita anggap saja seks sebagai fakta, dan menjelaskannya kepada adik-adik kita sebagai fakta.
Kenapa harus takut? Mendigan orang tua dans sekola-sekola mulan mengajarkan pendidikan seks, daripada adik-adik kita cari tahu sendiri dengan risiko mendapat jawaban serba salah atau jadi korban, kan?
Jadinya, kita tidak boleh tutup mata dan sebaliknya kita harus lebih tahu tentang hal yang ternyata masih sedikit tabu ini.Saya ambil contoh yang agak aneh, tapi coba kita samakan seks dengan demam berdarah alias DB.
Kalau sifat kita terhadap DB sama dengan sifat kita terhadap seks, yang bisa terjadi adalah:
- Tidak ada orang yang mau mengaku telah terinfeksi DB
- Tidak ada orang yang berani berbagi informasi tentang cara mencegah DB
- Anak-anak dilarang keluar kamar pagi-pagi dan sore-sore, tapi tidak dijelaskan alasannya
- Anak-anak mengucapkan kata "nyamuk" dimarahi orang tuanya
- Orang panik setiap kali digigit serangga apapun (kan belum begitu jelas kenanya dari mana)
- Munculnya banyak obat-obat anti-DB yang ternyata palsu/tidak mempan
- Tentu saja jumlah orang yang meninggal dunia kerena DB setinggi langit
Ya, memang takkan ada video-video nyamuk disebar-luaskan melalui HP, tapi kalian get my point kan? Nah, sekarang kita lihat, di dunia ini, apalagi dengan rutinisasi pemakaian internet dan social media, anak-anak semakin terekspose dan remaja-remaja bisa semakin sering dijadikan korban skandal-skandal tidak jelas.
Tapi kenapa ya bisa sampai ke situ?Jawabannya jelas: Kalau saya tahu tentang sesuatu dan kamu tidak tahu akan hal yang sama, saya dapat mamfaatkan ketidaktahuan kamu dan mamfaatkan kamu.
Kalau hal itu mobil, kamu jadi pembeli, kalau hal itu seks...kamu jadi korban. Makanya solusinya jelas, tidak usah tutup facebook, tidak usah buang hp... tambah ilmu saja tentang seks! Seks itu manusiawi, seks itu sebagian besar dari hidup kita, seks itu bukan teori tapi fakta. Jadi kita anggap saja seks sebagai fakta, dan menjelaskannya kepada adik-adik kita sebagai fakta.
Kenapa harus takut? Mendigan orang tua dans sekola-sekola mulan mengajarkan pendidikan seks, daripada adik-adik kita cari tahu sendiri dengan risiko mendapat jawaban serba salah atau jadi korban, kan?


0 Responses to "Pendidikan seks: agar tidak jadi korban."
Post a Comment
Tell me how much you hate it.